itbonict

My writing about Science and Technology

Distro Linux: Dorongan atau Hambatan?

with 4 comments

Distro (distribusi) merupakan salah satu fenomena menarik yang dapat kita temukan di dunia Linux. Dewasa ini kita menemukan ada ratusan distro Linux yang dapat bebas kita pasang dan gunakan. Bagi sebagian orang, fenomena banyaknya pilihan distro ini merupakan suatu keunikan serta keunggulan, di mana mereka dapat bebas memilih mana distro yang cocok bagi selera serta kebutuhan mereka masing-masing. Namun bagi sebagian lain, bisa jadi banyaknya aneka distro yang tersedia justru membingungkan mereka, yang tidak mengerti harus memilih apa dan bagaimana.

Selama setahun keberjalanan penulis bersama Linux, penulis sendiri sempat merasakan “kebingungan” dan kebimbangan dalam pencarian di antara aneka distro Linux yang tersedia. Penulis sempat mencoba beberapa distro mulai dari PCLinuxOS, OpenSUSE, Fedora, Slackware, Ubuntu, dan VectorLinux. Sempat juga mencoba distro berbentuk LiveCD semisal gOS, KNOPPIX, SLAX, Backtrack, DSL, dsb. Namun yang namanya mencoba sekedar mencoba, kalau sudah tidak suka dengan yang satu dan jatuh hati kepada yang lain, dengan mudah hati pun berpaling padanya.

Memilih distro Linux

Ada beberapa pertimbangan yang dapat membantu kita dalam memilih serta menentukan distro mana yang sebaiknya kita gunakan, salah satu di antaranya adalah komunitas. Benar, komunitas. Dalam dunia Linux, komunitas dapat menjadi ujung tombak terdepan dalam perkembangan serta pengembangannya; dan dalam bahasan distro, komunitas jugalah yang merupakan salah satu faktor penentu keberlanjutan si distro itu sendiri. Hal ini tentu tidak mutlak adanya, bahwa ada juga pengembang distro yang tidak bergantung — baik sebagian maupun keseluruhan — kepada komunitas.

Pertimbangan-pertimbangan lainnya banyak berkisar pada aspek teknis dan praktis, seperti kebutuhan Anda dalam menggunakan Linux, serta apa saja yang ingin Anda dapatkan dari distro Linux yang Anda pilih. Dalam pemilihan distro untuk sebuah server misalnya, Anda dapat langsung memilih di antara distro-distro yang memang khusus dibuat serta dioptimasi untuk kebutuhan server (misal, Ubuntu Server), atau Anda dapat juga memilih distro semisal Slackware untuk kemudian melakukan konfigurasi serta optimalisasi sendiri padanya (penulis terinspirasi dari sebuah diskusi maya di milis id-slackware).

Aspek lain yang juga dapat dipertimbangkan adalah kemudahan dan keleluasaan dalam melakukan penambahan paket-paket aplikasi pihak ketiga pada distro Linux yang kita miliki. Anda juga dapat menemukan berbagai distro yang memang dibuat untuk suatu keperluan tertentu (misal, Ubuntu Studio untuk kebutuhan multimedia, Backtrack untuk dunia hacking dan penetrasi sistem, dll), selain juga dapat memilih suatu distro apa saja dan kemudian mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan Anda.

Hambatan-hambatan lain

Selain beberapa pertimbangan di atas, penulis merasakan adanya hambatan-hambatan lain yang bersifat lebih menghambat penggunaan Linux dibanding fenomena distro Linux itu sendiri. Salah satu hambatan terbesar yang penulis hadapi adalah lingkungan sekitar penulis. Faktanya, saat ini Linux maupun sistem operasi bersifat open source lainnya belumlah banyak digunakan oleh masyarakat umum. Hal ini tentu sedikit banyak akan berakibat pada sulitnya melakukan koordinasi dan kolaborasi, seperti kesulitan dalam menggunakan standar dokumen Open Document Format (ODF) yang nyatanya tidak dipakai pada sistem yang telah umum digunakan, dan begitu juga sebaliknya.

Dukungan para pengembang — baik hardware maupun software — juga penulis rasakan cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap Linux sebagai sistem operasi pilihan. Penulis banyak menemukan berbagai macam keluhan terkait seputar tidak/belum berfungsinya beberapa device pada laptop maupun desktop, yang mana membutuhkan tenaga “ekstra” untuk dapat mengatasinya (tidak seperti sistem lain yang sudah dapat langsung berjalan lancar tanpa perlu melakukan kerja tambahan). Ketersediaan perangkat lunak (software) pun turut menjadi penentu, dalam artian jika saya tidak dapat menjalankan program yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan saya pada sistem Linux, maka bagaimana dan untuk alasan apa saya akan menggunakannya?

Penutup

Seorang sahabat berkirim pesan kepada penulis,

Hidup ini memang pilihan. Pilihan itu harus diputuskan. Keputusan itu harus dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan.

Memilih distro Linux yang pas tentu merupakan suatu tantangan yang cukup menyenangkan. Semua akan kembali pada diri kita masing-masing, mengapa dan untuk apa kita memilih untuk menggunakan distro pilihan kita. Pilihan tersebut tentu akan membawa konsekuensi yang sudah sewajarnya harus dapat kita terima. Tidak perlu ragu ataupun cemas bila suatu saat Anda menemukan distro lain yang lebih pas bagi Anda. Sungguh tidak etis bila fenomena distro ini justru menjadi ajang fanatisme dan jatuh-menjatuhkan, yang ironisnya terjadi antar sesama pengguna Linux.

Akhir kata, apapun distronya, yang penting Linux sistemnya! :P

Written by زهير

November 20, 2008 at 4:50 pm

Posted in Opinions

Tagged with ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Assalaamu’alaikum ww
    Kaifa hal ya akhi, masih ingat pak Aas, guru ilmu bumimu di SMA dulu? Pengguna Linux di sekolah kayaknya sekarang tinggal saya setelah pak Ade nggak di IIBS lagi, cuma karena kompiku pas-pasan akhirnya balik ke WXP lagi deh, juga lingkungn yang nggak support. Kalau boleh minta copynya deh CD-CD Linux mu yang nggak kepake.
    Syukron

    abuaziizah

    November 27, 2008 at 1:19 pm

  2. saya jg sempat bingung awalnya..akhirnya merasa bahwa ada salah satu filosofi distro utama yg ngepas di hati..entah jika nanti ganti lg..masi ada satu partisi utk coba2..toh masi bole bebas ganti2.. :D

    dani

    December 9, 2008 at 12:40 pm

  3. weleh, weleh, kita coba tinggalkan yang haram-haram (bajakan) sedikit demi sedikit, pake yang halal aja. Dan kita sekarang berada di jalan yang benar. he he

    egcool

    September 25, 2009 at 6:18 pm

    • Btw kang, pakai program “bajakan” tuh gak haram, loh..
      Ane pakai Linux bukan karena pakai Windows “bajakan” itu haram. Kalaupun ada yang ngasih Windows asli berlisensi, ane tetep milih pakai Linux.. :D

      زهير

      September 27, 2009 at 11:45 am


Leave a Reply